Puncak Mudik 28-30 Maret: Hati-Hati Kemacetan, Kecelakaan, dan Cuaca Buruk!

Menjelang Lebaran Idul Fitri 2025, pemerintah telah menyiapkan berbagai skema untuk memastikan kelancaran arus mudik dan arus balik. Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polhukam) Budi Gunawan menegaskan bahwa seluruh kementerian dan lembaga terkait siap mengamankan perjalanan mudik tahun ini.

“Kami telah melakukan koordinasi dengan Polri, TNI, Kementerian Perhubungan, BMKG, Kementerian Pariwisata, serta sejumlah instansi lainnya. Dari hasil rapat, dapat disimpulkan bahwa seluruh pihak telah siap menyukseskan mudik dan Lebaran 1446 H tahun 2025,” ujar Budi Gunawan dalam konferensi pers di Sekolah Tinggi Ilmu Kepolisian (STIK), Jakarta, pada Senin (10/3/2025).

Jumlah Pemudik Diprediksi Capai 146 Juta Orang

Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwaghandi memperkirakan jumlah pemudik tahun ini mencapai 146,48 juta orang. Dari jumlah tersebut, 23 persen di antaranya diperkirakan akan menggunakan mobil pribadi.

Adapun, daerah asal pemudik terbesar berasal dari Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Sementara itu, tujuan terbanyak mencakup Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, serta Daerah Istimewa Yogyakarta.

Puncak Arus Mudik dan Balik

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memprediksi bahwa puncak arus mudik akan terjadi pada 28-30 Maret 2025, sementara puncak arus balik diperkirakan berlangsung pada 5-7 April 2025.

“Kami telah mempersiapkan langkah-langkah antisipasi untuk mengurai kepadatan yang diperkirakan terjadi pada periode puncak mudik dan arus balik,” ungkap Kapolri Listyo Sigit.

Rekayasa Lalu Lintas: One Way dan Contraflow

Dalam upaya mengendalikan arus kendaraan, Polri telah menyiapkan berbagai strategi rekayasa lalu lintas, termasuk sistem ganjil-genap, contraflow, dan one way nasional.

Kapolri menjelaskan bahwa sistem one way akan diterapkan ketika volume kendaraan di jalan tol mencapai 8.000 kendaraan per jam.

“Jika kepadatan jalan tol sudah mencapai angka tersebut, maka sistem one way akan segera diberlakukan,” jelasnya.

Sementara itu, jika volume kendaraan berada di angka 6.000 hingga 7.000 kendaraan per jam, maka rekayasa contraflow akan diterapkan.

Saat ini, lokasi penerapan rekayasa lalu lintas masih dalam tahap finalisasi. Namun, Kapolri memastikan bahwa masyarakat akan mendapatkan informasi lebih lanjut sebelum kebijakan ini diterapkan.

Selain itu, anggota Polri dan instansi terkait akan melakukan patroli rutin guna memastikan kelancaran arus mudik dan menghindari potensi kecelakaan di lapangan.

Imbauan untuk Pemudik: Jangan Paksakan Diri

Kapolri mengingatkan agar para pemudik tidak memaksakan diri saat berkendara, terutama jika merasa kelelahan.

“Kami mengimbau agar pemudik tidak memaksakan diri melanjutkan perjalanan jika merasa lelah. Gunakan rest area yang tersedia, atau jika penuh, pemudik bisa keluar di pintu tol terdekat untuk beristirahat di tempat yang lebih aman,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan agar pemudik tidak beristirahat di bahu jalan, karena dapat membahayakan pengendara lain.

Selain faktor kelelahan, pemudik juga diminta mewaspadai cuaca buruk yang berpotensi terjadi selama musim mudik.

“Saat ini kita masih dalam musim hujan, dan ada kemungkinan terjadi banjir atau tanah longsor di beberapa titik. Oleh karena itu, kami telah menyiapkan berbagai alternatif jalur jika ada kondisi darurat,” kata Kapolri Listyo Sigit.

Layanan Hotline untuk Pemudik

Untuk memberikan kemudahan bagi masyarakat yang mengalami kendala selama perjalanan, Polri menyediakan layanan hotline yang dapat diakses kapan saja.

“Kami menyediakan hotline 110 yang bisa digunakan masyarakat untuk melaporkan kejadian darurat selama perjalanan mudik,” tambahnya.

Dengan berbagai skema yang telah disiapkan, pemerintah berharap mudik Lebaran 2025 dapat berlangsung dengan aman, nyaman, dan lancar bagi seluruh masyarakat.

Pembangunan LRT Jakarta Fase 1B: Solusi Kemacetan dan Polusi untuk Warga Jakarta!

Kemacetan yang terus menjadi masalah di DKI Jakarta tidak hanya disebabkan oleh jumlah penduduk yang sangat padat, tetapi juga oleh pertumbuhan pesat jumlah kendaraan bermotor. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta, jumlah penduduk Jakarta pada 2023 tercatat sebanyak 10,56 juta jiwa, sementara jumlah kendaraan bermotor mencapai 21,8 juta unit. Jumlah kendaraan yang sangat banyak ini memenuhi jalan-jalan di Jakarta, terutama pada jam sibuk seperti pagi dan sore hari. Meskipun kebijakan ganjil genap diberlakukan, dampaknya terhadap pengurangan kemacetan masih belum signifikan.

Sebagai solusi, Pemprov DKI Jakarta bersama penyedia angkutan umum terus berupaya untuk mengatasi masalah ini dengan mengoptimalkan angkutan massal, seperti mikrotrans, TransJakarta, kereta listrik (KRL), MRT, dan LRT Jakarta. Pembangunan LRT Jakarta Fase 1B, yang menghubungkan Rawamangun dan Manggarai, diharapkan dapat memperbaiki kondisi ini. Proyek ini yang sedang berlangsung sejak peletakan batu pertama pada 30 Oktober 2024, mencakup pembangunan lintasan sepanjang 6,4 kilometer dan lima stasiun.

LRT Jakarta Fase 1B ini akan memperpanjang jaringan LRT Jakarta Fase 1A yang sudah ada, menghubungkan Stasiun Velodrome di Kelapa Gading hingga Manggarai. Dengan panjang 12,2 kilometer, waktu tempuh dari Stasiun Kelapa Gading ke Manggarai diperkirakan hanya 26 menit, sehingga mempermudah akses ke KRL dan moda transportasi lainnya di Jakarta. Selain mengurangi kemacetan dan polusi, pembangunan ini juga berfokus pada menciptakan budaya penggunaan transportasi umum yang aman, nyaman, dan terjangkau.

Namun, proyek ini menghadapi tantangan besar karena dilaksanakan di atas jalan tol Wiyoto Wiyono, yang mengakibatkan penyempitan jalan dan potensi kemacetan. Selain itu, jalur LRT ini juga dibangun di atas jalur KRL, sehingga perlu koordinasi yang intensif dengan pihak terkait. Meski begitu, kemajuan proyek terus berjalan dengan pesat, ditandai dengan uji coba jalur menggunakan kereta Maintenance Rail Vehicle (MRV) pada 30 September 2024.

Hingga 10 Desember 2024, pembangunan LRT Jakarta Fase 1B telah mencapai 39,83 persen. Proyek ini diprediksi akan rampung pada kuartal ketiga tahun 2026. PT Jakarta Propertindo (Jakpro) bersama mitra-mitranya berkomitmen untuk mempercepat pembangunan agar proyek ini selesai tepat waktu. Diharapkan, kehadiran LRT Jakarta dapat mendorong masyarakat Jakarta untuk beralih ke angkutan umum, mengurangi kemacetan, dan menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat.

Peningkatan jumlah pengguna angkutan umum yang tercatat oleh BPS, yang mencapai 34,17 juta orang pada Januari 2024, menunjukkan tren positif. Untuk memastikan keberhasilan ini, transportasi publik harus menghadirkan kepastian waktu, kenyamanan, serta keamanan bagi penumpang. Dengan begitu, Jakarta bisa menjadi kota yang lebih baik, ramah, dan kompetitif di tingkat global.