Indonesia-Kamboja Pererat Kerja Sama Pasukan Khusus & Keamanan Maritim

Indonesia dan Kamboja kembali mempererat hubungan bilateral mereka, kali ini di sektor pertahanan, dalam sebuah pertemuan penting antara Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Sjafrie Sjamsoeddin, dan Menteri Pertahanan Kamboja, Jenderal Tea Seiha. Pertemuan ini berlangsung pada Rabu, 26 Februari 2025, di Penang, Malaysia, yang juga menjadi bagian dari ASEAN Defence Ministers’ Meeting (ADMM) Retreat. Dalam kesempatan tersebut, kedua negara membahas berbagai langkah strategis guna meningkatkan kerja sama militer, dengan fokus utama pada pengembangan pasukan khusus dan penguatan keamanan maritim di kawasan.

Pengembangan Pasukan Khusus dan Keamanan Maritim: Fokus Utama Kerja Sama

Menteri Pertahanan RI, Sjafrie Sjamsoeddin, menegaskan bahwa penguatan kerja sama pertahanan antara Indonesia dan Kamboja merupakan langkah penting dalam menjaga stabilitas kawasan Asia Tenggara. “Pertemuan bilateral ini sangat berarti dalam upaya kami memperkuat kerja sama dalam pengembangan pasukan khusus dan memperhatikan peningkatan keamanan maritim di kawasan ini,” ujar Sjafrie dalam pernyataan resmi yang dibagikan melalui akun Instagram Kementerian Pertahanan RI (@kemhanri).

Dukungan Indonesia terhadap pengembangan kemampuan militer Kamboja diharapkan tidak hanya memperkokoh hubungan kedua negara, tetapi juga berperan penting dalam menciptakan kawasan yang aman dan stabil. Kolaborasi ini diyakini dapat menjawab tantangan yang ada, termasuk ancaman maritim yang semakin kompleks di wilayah tersebut.

Apresiasi Terhadap Partisipasi Kamboja dalam MNEK 2025

Selain membahas isu pertahanan strategis, Menteri Pertahanan Indonesia juga menyampaikan apresiasi kepada Kamboja atas partisipasinya dalam Multilateral Naval Exercise Komodo (MNEK) 2025 yang akan digelar di Bali. “Terima kasih kami sampaikan kepada Kamboja atas partisipasinya dalam MNEK 2025. Partisipasi ini memperkuat semangat kebersamaan dalam ASEAN, yang sangat penting untuk menghadapi berbagai tantangan keamanan yang akan datang,” tambah Sjafrie.

Partisipasi Kamboja dalam latihan angkatan laut multilateral ini menggambarkan pentingnya kerja sama antara negara-negara di kawasan untuk menjaga kestabilan keamanan maritim, terutama di tengah situasi geopolitik global yang terus berkembang. Ini menjadi bukti komitmen bersama untuk mempertahankan ketertiban dan keamanan di perairan Asia Tenggara yang strategis.

Kemitraan Pertahanan Strategis untuk Masa Depan

Sebagai negara yang memiliki pengaruh besar di Asia Tenggara, Indonesia terus berupaya memperkuat kemitraannya dengan negara-negara ASEAN, termasuk Kamboja. Salah satu aspek penting dalam kerja sama ini adalah pengembangan pasukan khusus Kamboja, yang dikenal dengan sebutan Batalyon Para-Komando atau Kopassus Kamboja. Latihan bersama dan pertukaran pengalaman antara pasukan elit dari kedua negara ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas dan profesionalisme prajurit, serta memperkuat kemampuan pertahanan kedua negara.

Dengan semakin eratnya kerja sama ini, Indonesia dan Kamboja menegaskan komitmen mereka dalam menjaga stabilitas kawasan. Melalui upaya bersama di bidang pertahanan, kedua negara berharap dapat menciptakan lingkungan yang lebih aman, yang tidak hanya akan memperkuat keamanan nasional masing-masing, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap perdamaian dan kemakmuran kawasan Asia Tenggara secara keseluruhan.

Kendala Keamanan Hambat Distribusi Bantuan ke Palestina, Kata Wamenlu

Pemerintah Indonesia terus berupaya menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi rakyat Palestina di tengah berbagai kendala yang dihadapi di lapangan. Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Anis Matta mengungkapkan bahwa salah satu tantangan terbesar dalam proses distribusi bantuan adalah faktor keamanan, terutama saat melewati perbatasan negara-negara sekitar Palestina.

“Kendala terbesar di lapangan adalah isu keamanan, baik dari pihak Mesir, Yordania, maupun Israel. Oleh karena itu, pengamanan yang ketat menjadi hal penting untuk memastikan bantuan sampai ke tangan warga Palestina,” ujar Anis dalam acara peluncuran kampanye penggalangan dana di Kantor Kemlu RI, Jakarta Pusat, pada Rabu (26/2/2025).

Jaminan Bantuan Sampai ke Palestina

Meskipun menghadapi berbagai tantangan, Anis memastikan bahwa bantuan yang dikumpulkan dari masyarakat Indonesia tetap akan tersalurkan dengan baik kepada warga Palestina.

“InsyaAllah, melalui Kementerian Luar Negeri dan kerja sama dengan berbagai pihak, kita akan terus berupaya mengatasi kendala ini agar bantuan bisa diterima oleh saudara-saudara kita di Palestina,” tegasnya.

Kementerian Luar Negeri bekerja sama dengan Badan Zakat Nasional (Baznas), Majelis Ulama Indonesia (MUI), serta berbagai lembaga kemanusiaan non-pemerintah untuk menghimpun dana bagi Palestina. Penggalangan dana ini menargetkan donasi sebesar 200 juta USD atau sekitar Rp 3,2 triliun.

“Hari ini kita memulai gerakan ini dengan target awal sekitar 200 juta USD atau kira-kira Rp 3,2 triliun. Dana ini nantinya akan digunakan untuk berbagai program kemanusiaan,” ungkap Anis.

Fokus pada Bantuan Darurat dan Rekonstruksi Gaza

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa dana yang terkumpul akan digunakan untuk bantuan darurat selama masa gencatan senjata serta rekonstruksi infrastruktur di Gaza yang hancur akibat konflik.

“Saat ini kita fokus pada dua program utama, yaitu bantuan darurat selama masa ceasefire (gencatan senjata) serta rekonstruksi Gaza. InsyaAllah, bantuan ini dapat membantu meringankan penderitaan saudara-saudara kita di sana,” kata Anis.

Tidak ada batas waktu yang ditentukan untuk penggalangan dana ini. Namun, kampanye tersebut dimulai bertepatan dengan bulan suci Ramadhan, dengan harapan dapat menggerakkan lebih banyak masyarakat untuk berpartisipasi.

“Kita tidak menetapkan batas waktu penggalangan dana, tetapi kita memulainya di bulan Ramadhan agar bisa segera disalurkan dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat Palestina,” pungkasnya.

Upaya ini menunjukkan komitmen kuat Indonesia dalam membantu Palestina, baik melalui bantuan kemanusiaan maupun dukungan diplomatik di berbagai forum internasional.

Keamanan Siber: Tantangan & Solusi Menuju Ketahanan Digital

Kasus kebocoran Pusat Data Nasional Sementara (PDNS) di Surabaya pada 2024 menjadi bukti nyata betapa seriusnya ancaman serangan siber terhadap sistem digital Indonesia. Insiden yang disebabkan oleh ransomware Brain Chiper ini berdampak besar, dengan 201 instansi pusat dan daerah terkena imbasnya. Salah satu dampak paling mencolok adalah lumpuhnya layanan imigrasi, menyebabkan antrean panjang berjam-jam di berbagai bandara.

Sebelumnya, Indonesia juga pernah dikejutkan oleh serangan ransomware WannaCry yang mengganggu layanan daring di Rumah Sakit Dharmais dan Rumah Sakit Harapan Kita pada 2017. Insiden ini menghambat operasional rumah sakit, memperlambat pelayanan pasien, dan membuktikan bahwa dunia kesehatan pun tak luput dari ancaman siber.

Serangan semacam ini bukan hanya terjadi di Indonesia. Rusia tercatat telah melakukan serangan siber masif terhadap sistem Ukraina sejak 2014, sebelum akhirnya melancarkan invasi militer. Di Korea Selatan, serangan siber yang melumpuhkan koneksi internet selama 20 hari berdampak pada perekonomian, bursa saham, hingga distribusi energi dan pangan.

Meningkatnya Ancaman Siber di Indonesia

Tren serangan siber di Indonesia terus meningkat setiap tahunnya. Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat 403 juta anomali trafik atau serangan siber sepanjang 2023, naik dari 370 juta serangan pada 2022 dan 266 juta serangan pada 2021. Lebih mengejutkan lagi, data dari AwanPintar.id menyebutkan bahwa pada semester pertama 2024 saja, Indonesia sudah mengalami 2,5 miliar serangan siber.

Fakta ini menunjukkan betapa rentannya infrastruktur digital Indonesia terhadap ancaman siber. Meski pemerintah telah memiliki berbagai lembaga terkait—seperti BSSN, Siber Polri, Siber TNI, Siber BIN, dan Kominfo Digital (Komdigi)—masih ada kesenjangan dalam koordinasi antarinstansi. Saat terjadi serangan, tidak ada sistem komando yang jelas mengenai siapa yang bertanggung jawab dalam pencegahan, mitigasi, pemulihan, atau perbaikan pasca-serangan.

Mendesaknya Regulasi yang Terintegrasi

Saat ini, regulasi terkait keamanan siber di Indonesia masih tersebar dalam berbagai aturan yang bersifat sektoral. Beberapa di antaranya adalah Permenhan No. 82 Tahun 2014 tentang Pedoman Pertahanan Siber, Perpres No. 47 Tahun 2023 tentang Strategi Keamanan Siber Nasional, dan Peraturan BSSN No. 4 Tahun 2021 tentang Pedoman Manajemen Keamanan Informasi. Namun, tanpa payung hukum setingkat undang-undang yang komprehensif, upaya perlindungan siber akan sulit berjalan efektif.

Indonesia membutuhkan UU Keamanan Siber yang mampu mengintegrasikan seluruh elemen keamanan siber nasional, baik dalam pencegahan, respons, maupun pemulihan pasca-serangan. Payung hukum ini harus memberikan dasar yang kuat untuk pengawasan ketat, penegakan hukum yang konsisten, serta adaptasi terhadap perkembangan teknologi dan ancaman siber yang terus berubah.

Tiga Pilar Utama dalam Keamanan Siber

Untuk membangun sistem keamanan siber yang kokoh, ada tiga aspek utama yang harus diperhatikan dalam penyusunan regulasi:

  1. Manajemen Risiko Siber
    Indonesia adalah negara kepulauan yang rawan bencana alam, seperti gempa bumi dan letusan gunung berapi. Kesadaran akan risiko ini seharusnya juga diterapkan dalam keamanan siber. Jika infrastruktur fisik dirancang tahan gempa, maka infrastruktur digital harus dirancang tahan terhadap serangan siber. Tanpa manajemen risiko yang jelas, serangan siber bisa melumpuhkan negara dalam hitungan detik.
  2. Kepemimpinan yang Terpusat
    Saat ini, sistem keamanan siber Indonesia masih tersebar di berbagai lembaga, yang sering kali menghambat koordinasi. Dibutuhkan satu entitas pemimpin yang bertanggung jawab dalam menghadapi serangan siber, mulai dari pencegahan, mitigasi, hingga pemulihan. Tanpa kepemimpinan yang jelas, respons terhadap serangan siber akan berjalan lambat dan tidak efisien.
  3. Standar dan Prosedur Keamanan Siber
    Pembangunan infrastruktur digital, seperti Pusat Data Nasional (PDN), harus mengikuti standar keamanan yang ketat. Seluruh perangkat lunak dan perangkat keras yang digunakan harus diaudit secara menyeluruh untuk mencegah adanya backdoor atau spyware yang bisa dimanfaatkan oleh peretas. Beberapa standar internasional yang bisa diterapkan adalah ISO 27001 tentang Manajemen Keamanan Informasi dan SNI IEC 62443 tentang Standar Keamanan Siber.

Saatnya Bertindak!

Serangan siber bukan lagi ancaman di masa depan—mereka sudah terjadi saat ini, setiap hari, setiap jam. Jika Indonesia tidak segera memperkuat sistem pertahanan sibernya, dampak yang lebih besar bisa terjadi, termasuk lumpuhnya layanan publik, kekacauan ekonomi, hingga ancaman terhadap kedaulatan negara.

Saat ini, kita sedang berpacu dengan waktu. Langkah nyata harus segera diambil sebelum serangan siber berikutnya kembali mengancam stabilitas nasional.

Rusia dan Indonesia Perkuat Hubungan Militer, Menhan Sjafrie Gelar Pertemuan Strategis

Menteri Pertahanan Republik Indonesia (Menhan RI), Sjafrie Sjamsoeddin, menerima kunjungan Sekretaris Dewan Keamanan Rusia, Sergei Shoigu, di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta, pada Selasa (25/2/2025). Dalam pertemuan tersebut, kedua belah pihak membahas peluang kerja sama di bidang pertahanan, termasuk kemungkinan pengadaan alat utama sistem persenjataan (alutsista) serta program pertukaran dan pelatihan militer antara Indonesia dan Rusia.

Kepala Biro Informasi Pertahanan Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI Frega Wenas Inkiriwang, mengungkapkan bahwa Rusia memiliki sejarah panjang dalam memberikan kontribusi bagi Indonesia, terutama dalam mendukung perjuangan bangsa.

“Secara historis, Rusia telah memberikan kontribusi yang signifikan, termasuk dalam perjalanan perjuangan kemerdekaan Indonesia,” ujar Frega, Selasa.

“Ketika kita menghadapi Belanda, ada peran Rusia di situ, terutama dalam hal dukungan pertahanan. Bahkan, hingga saat ini, beberapa alutsista buatan Rusia masih digunakan oleh militer Indonesia,” lanjutnya.

Indonesia dan Rusia Miliki Sejarah Panjang dalam Kerja Sama Alutsista

Dalam pernyataannya, Frega menegaskan bahwa hubungan pertahanan antara Indonesia dan Rusia telah terjalin erat selama bertahun-tahun. Sejumlah alutsista buatan Rusia telah menjadi bagian penting dari sistem pertahanan Indonesia, di antaranya pesawat tempur Sukhoi Su-27/30, helikopter MI-17, kendaraan tempur BMP-3F, hingga senjata ringan AK-101 dan AK-102.

“Fakta bahwa banyak alutsista Rusia digunakan oleh TNI menunjukkan bahwa kerja sama pertahanan kedua negara telah terjalin dengan baik selama ini,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Shoigu juga menyampaikan undangan kepada Indonesia untuk menghadiri pameran alutsista di Rusia, yang diikuti oleh berbagai negara. Pameran ini menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk menjajaki potensi kerja sama lebih lanjut di bidang teknologi militer.

Peluang Kerja Sama di Bidang Pelatihan dan Pendidikan Militer

Dalam pertemuan tersebut, Indonesia juga menyatakan komitmennya untuk mengirimkan personel militer ke Rusia dalam rangka pertukaran pendidikan dan pelatihan. Menurut Frega, Menhan RI menekankan pentingnya bukan hanya kerja sama di tingkat institusi militer, tetapi juga membangun hubungan langsung antar individu dari kedua negara.

“Pak Menhan menekankan bahwa kerja sama ini tidak hanya terbatas pada latihan di satuan militer, tetapi juga membangun hubungan people-to-people, yang menjadi dasar kuat dalam interaksi antara Indonesia dan Rusia,” kata Frega.

Kedatangan Sergei Shoigu ke Indonesia disebut sebagai bukti nyata komitmen tingkat tinggi antara kedua negara. Hubungan yang semakin erat ini diharapkan dapat menciptakan stabilitas kawasan serta mendukung perdamaian global.

“Ke depan, Indonesia dan Rusia diharapkan dapat terus memperkuat kerja sama di bidang pertahanan dan militer, sekaligus mempererat hubungan antar masyarakat kedua negara,” pungkasnya.

Pemilu Jerman 2025 Resmi Berjalan, Isu Migrasi dan Keamanan Mengemuka

Jerman bersiap menghadapi momen penting dalam sejarah politiknya saat jutaan warga memberikan suara dalam Pemilu 2025 yang berlangsung pada Minggu (23/2/2025). Pemilu kali ini berlangsung di tengah meningkatnya kekhawatiran akan isu keamanan dan migrasi, setelah serangkaian serangan mematikan mengguncang negara tersebut.

Dalam kontestasi politik yang diawasi ketat oleh Eropa dan Amerika Serikat, Friedrich Merz, pemimpin konservatif berusia 69 tahun, berada di posisi terdepan untuk menjadi kanselir Jerman berikutnya. Jika menang, ia dihadapkan pada tugas besar untuk memulihkan ekonomi terbesar di Eropa dan memperbaiki infrastruktur negara dalam waktu empat tahun—sebuah janji yang tidak mudah diwujudkan.

Peta Koalisi: CDU Butuh Mitra Politik

Jika Partai Demokrat Kristen (CDU) yang dipimpin Merz keluar sebagai pemenang, mereka tetap harus mencari mitra koalisi untuk membentuk pemerintahan. Partai Sosial Demokrat (SPD) yang dipimpin Olaf Scholz, kanselir petahana yang pemerintahannya runtuh tahun lalu, disebut sebagai kandidat mitra utama.

Menjelang hari pemungutan suara, Merz menegaskan tidak akan bekerja sama dengan Alternatif untuk Jerman (AfD), partai sayap kanan yang kini berpotensi menjadi kekuatan politik terbesar kedua. Sementara itu, jumlah pemilih yang memenuhi syarat dalam pemilu ini mencapai 59,2 juta orang, dengan jutaan suara telah dikirim melalui pos.

Jajak pendapat menunjukkan bahwa 20 persen pemilih masih ragu menentukan pilihan, meskipun waktu pemungutan suara semakin dekat. Tempat pemungutan suara akan dibuka pukul 08.00 dan ditutup pukul 18.00 waktu setempat, dengan hasil awal diperkirakan dapat diketahui pada malam harinya.

Dinamika Politik dan Tantangan Jerman ke Depan

Antusiasme tinggi terlihat dalam kampanye yang berlangsung hingga Sabtu malam, di mana debat terakhir—yang kesembilan dalam sembilan bulan terakhir—digelar di televisi nasional. Pemilu kali ini dianggap sebagai titik balik bagi Jerman dalam menentukan arah kebijakan domestik maupun global.

Merz berjanji akan membawa kepemimpinan yang kuat di Eropa, meskipun Jerman juga berada di bawah tekanan untuk menyesuaikan anggaran militernya. Sebagai penyedia bantuan militer terbesar kedua bagi Ukraina, pemerintahan baru Jerman harus menghadapi dinamika hubungan internasional, terutama dengan Presiden AS Donald Trump, yang secara terbuka mengecam Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dan memperlemah solidaritas Barat terhadap Rusia.

Sementara itu, politik Jerman dikejutkan oleh pertemuan antara Wakil Presiden AS JD Vance dengan kandidat kanselir dari AfD, Alice Weidel. Dalam pertemuan itu, Vance menyuarakan keinginan untuk mengakhiri tabu politik Jerman yang melarang kerja sama dengan partai ekstrem kanan—sebuah prinsip yang dikenal sebagai firewall atau brandmauer di negara tersebut.

Hasil pemilu ini tidak hanya akan menentukan siapa yang memimpin Jerman ke depan, tetapi juga bagaimana negara tersebut menghadapi krisis geopolitik, tantangan ekonomi, dan dinamika politik global dalam beberapa tahun mendatang. 🚨🗳️

Meriahkan Warisan Budaya: Drama Musikal “Lutung Kasarung” di Global Sevilla

Sekolah Global Sevilla kembali menghadirkan pertunjukan drama musikal yang digarap langsung oleh para siswa, kali ini mengangkat kisah rakyat berjudul The Warrior’s Heart: Lutung Kasarung. Pementasan ini dijadwalkan berlangsung pada 21 Februari 2025 di Auditorium Sekolah Global Sevilla Pulomas, Jakarta. Dalam dua sesi pertunjukan yang diselenggarakan, sesi pertama akan diperuntukkan bagi para siswa, sementara sesi kedua ditujukan bagi orang tua dan tamu undangan.

Drama musikal ini merupakan bagian dari tradisi tahunan Sekolah Global Sevilla dalam memberikan wadah ekspresi seni bagi para siswa. Sebelumnya, sekolah ini telah sukses menggelar berbagai pertunjukan musikal seperti Pinocchio (2024), Bayu Wongso (2024), Timun Mas (2023), serta Si Pitung (2019). Keunikan dari setiap pementasan adalah penggunaan bahasa Inggris sebagai medium utama, menjadikan cerita rakyat Indonesia lebih mudah diterima dalam konteks global tanpa kehilangan nilai budaya aslinya.

Tahun ini, kisah Lutung Kasarung dipilih sebagai tema utama. Legenda ini menggambarkan perjalanan Sanghyang Guruminda, seorang pangeran kahyangan yang dikutuk menjadi seekor lutung dan harus menjalani kehidupan di bumi. Sementara itu, di kerajaan Pasir Batang, terjadi konflik perebutan kekuasaan antara dua putri raja, Purbasari dan Purbararang. Kecemburuan dan pengkhianatan menyebabkan Purbasari diasingkan ke dalam hutan, di mana ia kemudian bertemu dengan Lutung Kasarung. Seiring waktu, hubungan mereka berkembang, menghadapi berbagai ujian dan rintangan, termasuk sihir dan ambisi kekuasaan.

Menggali Potensi Siswa dan Memperkuat Akar Budaya

Sebanyak 104 siswa dari berbagai jenjang pendidikan terlibat dalam produksi drama musikal ini, mulai dari pemeran, penari, hingga tim pendukung di balik layar. Christina Sekar, selaku Project Manager sekaligus guru di Sekolah Global Sevilla, menjelaskan bahwa persiapan pementasan telah dimulai sejak September 2024, dengan proses latihan intensif selama enam bulan.

“Di sekolah kami, drama musikal selalu mengangkat cerita rakyat Indonesia. Melalui pementasan ini, siswa tidak hanya belajar seni peran, bernyanyi, dan menari, tetapi juga mendalami budaya bangsa,” ungkap Christina. Ia berharap kegiatan ini dapat menjadi wadah bagi siswa untuk mengeksplorasi potensi diri mereka dalam berbagai bidang seni. “Selain meningkatkan keterampilan dalam seni pertunjukan, mereka juga belajar bekerja sama dalam tim, keterampilan yang sangat penting bagi masa depan mereka,” tambahnya.

Purborini Sulistiyo, Head of School Global Sevilla, menegaskan bahwa kegiatan ini memiliki dampak mendalam bagi perkembangan siswa. “Drama musikal bukan sekadar hiburan, tetapi juga sarana pembelajaran yang mengajarkan komunikasi, kerja sama, dan empati. Anak-anak belajar menghargai satu sama lain serta mengembangkan rasa percaya diri mereka,” jelasnya.

Lebih lanjut, Purborini juga menyoroti manfaat drama musikal dalam menciptakan lingkungan sekolah yang lebih harmonis. “Melalui kegiatan ini, siswa dari berbagai jenjang bekerja sama dengan satu tujuan, yaitu menyukseskan pertunjukan. Hal ini membantu membangun kebersamaan dan mengurangi potensi perundungan di lingkungan sekolah,” ujarnya.

Drama Musikal sebagai Bagian dari Pendidikan Holistik

Sebagai bagian dari pendekatan pendidikan holistik yang diterapkan Sekolah Global Sevilla, drama musikal dianggap sebagai metode efektif untuk mengembangkan berbagai aspek keterampilan siswa. “Kami percaya bahwa pendidikan tidak hanya sebatas di dalam kelas. Melalui kegiatan seni seperti ini, anak-anak dapat belajar dengan cara yang lebih menyenangkan dan bermakna,” kata Purborini.

Global Sevilla juga berkomitmen untuk mengenalkan drama musikal sejak dini, dimulai dari tingkat taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas. Dengan demikian, siswa memiliki kesempatan untuk terus mengasah kreativitas, ekspresi diri, serta pemahaman mereka terhadap budaya Indonesia dalam konteks yang lebih luas.

“Pembelajaran yang menarik akan membuat anak-anak lebih termotivasi dan aktif dalam mengeksplorasi potensi mereka. Inilah yang terus kami upayakan melalui berbagai kegiatan berbasis seni dan budaya,” pungkas Purborini.

Drama musikal The Warrior’s Heart: Lutung Kasarung tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga wujud nyata upaya Sekolah Global Sevilla dalam melestarikan budaya lokal dan mengembangkannya dalam perspektif global. Dengan semangat kolaborasi dan kreativitas, pertunjukan ini diharapkan mampu memberikan pengalaman berharga bagi para siswa sekaligus menginspirasi banyak pihak untuk terus menjaga warisan budaya Indonesia.

Kekuatan Baterai LFP Meningkat, Menggulingkan Nikel di Pasar Dunia

Baterai berbasis lithium iron phosphate (LFP) semakin meraih perhatian besar di pasar global, khususnya untuk kendaraan listrik (EV). Teknologi ini dipandang memiliki prospek cerah, dengan permintaan yang terus meningkat, bahkan hampir menyaingi baterai berbasis nikel, yang selama ini menjadi favorit banyak negara besar. Jessica Hanafi, pendiri dan Kepala PT Life Cycle Indonesia, menekankan bahwa baterai LFP kini sedang berkembang pesat di seluruh dunia, bahkan hampir menggeser dominasi baterai berbasis nikel, terutama di China.

“Meski baterai berbasis nikel masih banyak digunakan di Eropa dan Amerika, tren global kini lebih condong ke LFP,” kata Jessica dalam sebuah diskusi kebijakan yang diadakan oleh Low Carbon Development Indonesia dan disiarkan secara daring pada Kamis (20/2/2025). Menurut laporan Badan Energi Internasional (IEA), meskipun permintaan baterai berbasis nikel masih memimpin, peningkatan permintaan untuk baterai LFP sangat signifikan sejak 2021 hingga 2023.

Salah satu alasan utama yang mendorong lonjakan permintaan LFP adalah harga baterai ini yang lebih terjangkau dibandingkan teknologi lainnya. Dengan harga yang lebih murah, LFP menjadi pilihan lebih banyak produsen kendaraan listrik. Di sisi lain, Indonesia yang merupakan salah satu negara penghasil nikel terbesar di dunia memiliki peran penting dalam penyediaan bahan baku untuk baterai berbasis nikel, namun perkembangan baterai LFP menuntut adanya perhatian lebih terhadap perubahan pasar.

Jessica menambahkan bahwa peningkatan permintaan LFP perlu menjadi perhatian serius bagi pembuat kebijakan Indonesia. Menurutnya, Indonesia harus mengantisipasi potensi ancaman terhadap pasar baterai berbasis nikel seiring dengan pergeseran tren menuju teknologi LFP. “Ini adalah momen penting untuk merencanakan strategi, kita perlu bergerak cepat ke arah ini,” ujarnya.

Selain itu, untuk menjaga daya saing, industri baterai berbasis nikel di Indonesia perlu fokus pada pengurangan biaya produksi, serta mengeksplorasi penerapan teknologi LFP sebagai alternatif. Jessica juga menekankan perlunya diversifikasi produksi baterai untuk mengurangi risiko pasar yang semakin tidak pasti. Sebagai respons terhadap hal ini, para pemangku kebijakan di Indonesia perlu mulai berinvestasi dalam teknologi LFP untuk menjaga kestabilan industri baterai dan mempersiapkan pasar domestik.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, juga mengungkapkan pentingnya pemerintah untuk mempertimbangkan skenario alternatif. “Selain mengembangkan industri nikel untuk baterai, kita juga harus berpikir tentang investasi dalam teknologi LFP. LFP bisa menjadi pilihan kedua yang sangat potensial,” ujar Faisal.

Perubahan tren dalam industri baterai kendaraan listrik ini menunjukkan bahwa Indonesia perlu berpikir lebih jauh ke depan untuk memastikan posisi strategisnya di pasar global. Jika pemerintah dan pelaku industri dapat segera merespons, Indonesia memiliki peluang besar untuk beradaptasi dengan teknologi terbaru, menjaga daya saing, dan terus berperan dalam transisi global menuju kendaraan listrik yang lebih ramah lingkungan.

Paus Fransiskus Selesaikan Urusan Penting di Vatikan Sebelum Sakit

Kesehatan Paus Fransiskus kini menjadi perhatian besar setelah ia dilarikan ke Rumah Sakit Gemelli di Roma pada Jumat, 14 Februari 2025, akibat kondisi pneumonia parah yang telah berkembang menjadi infeksi polimikroba. Laporan resmi dari The Holy See yang dikutip oleh Politico pada Senin, 17 Februari 2025, mengungkapkan bahwa masalah kesehatan Paus semakin serius, hingga memaksanya untuk membatalkan sejumlah kegiatan rutin, termasuk doa Angelus yang biasa ia pimpin setiap pagi. Dua sumber yang dekat dengan situasi tersebut menyatakan bahwa Paus Fransiskus telah merasakan rasa sakit yang sangat berat dalam beberapa waktu terakhir akibat kondisi medis ini.

Sebagai tindakan medis, tim dokter yang menangani Paus di Rumah Sakit Gemelli telah merekomendasikan agar ia menghindari aktivitas publik untuk mendukung proses pemulihan. Sebelum kondisi kesehatannya memburuk, Paus Fransiskus terlihat mempercepat beberapa keputusan penting di Vatikan, menunjukkan dedikasi dan kewaspadaan dalam mengelola pemerintahan Gereja.

Salah satu langkah yang diambil oleh Paus adalah perpanjangan masa jabatan Kardinal Giovanni Battista Re sebagai dekan Dewan Kardinal pada 6 Februari 2025. Keputusan tersebut berperan besar dalam mempersiapkan pertemuan rahasia yang akan menentukan pemilihan paus berikutnya, menegaskan pentingnya persiapan dalam masa-masa penuh ketidakpastian ini. Sebagai tambahan, Paus Fransiskus bahkan sempat bercanda bahwa Kardinal Re akan memperlakukan dirinya dengan lebih baik daripada kandidat lainnya, yang menyiratkan hubungan baik antara keduanya.

Di tengah kondisi kesehatan yang semakin menantang, Paus juga mengambil langkah-langkah reformasi di Vatikan dengan menunjuk Suster Raffaella Petrini sebagai gubernur wanita pertama di Vatican City. Penunjukan ini, yang akan dimulai pada 1 Maret 2025, direncanakan lebih cepat dari perkiraan semula, dan menariknya, pengumuman ini terjadi menjelang masa pensiun Kardinal Fernando Vergez Alzaga, yang akan berusia 80 tahun pada hari yang sama. Menandai akhir dari masa jabatan gubernur saat ini, penunjukan Petrini semakin menegaskan arah reformasi yang ingin diterapkan oleh Paus.

Langkah-langkah strategis ini menunjukkan bagaimana Paus Fransiskus, meskipun dalam keadaan yang tidak memungkinkan, terus berusaha memastikan kelancaran proses administratif di Vatikan, sekaligus meninggalkan warisan penting dalam bentuk reformasi dan pembaruan kepemimpinan. Dengan segala tantangan yang dihadapi, keputusan-keputusan ini tetap menunjukkan komitmen Paus untuk menjaga stabilitas dan kelangsungan gereja, bahkan dalam masa-masa sulit.

Chernobyl Diserang? Rusia Sangkal & Tuding Ukraina Bermain Kotor

Pemerintah Rusia membantah tuduhan Presiden Ukraina, Volodymyr Zelensky, yang menyebut serangan drone Moskow telah menyebabkan kerusakan pada struktur pelindung di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Chernobyl. Rusia menilai pernyataan tersebut sebagai provokasi yang disengaja dari Kyiv.

“Insiden di confinement shelter PLTN Chernobyl jelas merupakan kelanjutan dari tindakan sembrono dan kriminal yang dilakukan oleh rezim Kyiv, yang sepenuhnya menyadari konsekuensi dari tindakannya,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia, Maria Zakharova, dalam pernyataan resmi yang dirilis Kedutaan Besar Rusia di Jakarta, Selasa (18/2/2025).

Klaim Ukraina dan Rekaman CCTV

Pekan lalu, Zelensky menuding bahwa sebuah drone tempur Rusia dengan hulu ledak berkekuatan tinggi telah menghantam struktur pelindung beton dan baja di reaktor nomor 4 PLTN Chernobyl. Struktur tersebut dirancang untuk membatasi paparan radiasi dari bencana nuklir yang terjadi pada 1986.

“Kami telah berulang kali memperingatkan tentang kemungkinan provokasi dari Kyiv, dan sayangnya, kekhawatiran kami kembali terbukti,” tegas Zakharova.

Ia juga menambahkan bahwa serangkaian insiden seperti ini semakin menunjukkan bahwa teknologi nuklir yang berada dalam kendali pemerintahan Zelensky dapat menjadi ancaman besar bagi perdamaian dan keamanan internasional.

Zelensky sebelumnya mengunggah rekaman CCTV yang memperlihatkan ledakan terjadi di bagian samping struktur pelindung reaktor Chernobyl. Video yang tercatat pada Jumat (14/2) dini hari, sekitar pukul 02.00 waktu setempat, juga menunjukkan kobaran api kecil serta kerusakan berupa lubang di bagian atap. Dalam rekaman tersebut, terlihat pula petugas pemadam kebakaran yang berusaha mengendalikan api di lokasi kejadian.

Respon IAEA dan Situasi di PLTN Chernobyl

Meskipun mengalami kerusakan, Zelensky menegaskan bahwa tingkat radiasi di sekitar PLTN Chernobyl tetap stabil dan tidak mengalami peningkatan akibat serangan tersebut.

Sementara itu, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) juga mengonfirmasi adanya ledakan di sekitar lokasi, tetapi memastikan bahwa level radiasi di dalam maupun di luar area PLTN tetap berada dalam batas normal.

Sejak invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022, IAEA telah menempatkan tim pemantau di Chernobyl untuk mengawasi kondisi keamanan fasilitas nuklir tersebut. Lembaga ini berkali-kali mengingatkan bahwa pertempuran di sekitar PLTN bisa memicu risiko besar, tidak hanya bagi Ukraina, tetapi juga bagi kawasan sekitarnya.

Hingga kini, ketegangan antara Rusia dan Ukraina terkait keamanan fasilitas nuklir masih menjadi perhatian dunia internasional. Moskow dan Kyiv terus saling tuduh terkait insiden terbaru ini, sementara IAEA berupaya memastikan bahwa keselamatan nuklir tetap menjadi prioritas utama di tengah konflik yang belum mereda.

Thailand & 5 Negara Lain Berkolaborasi dalam Proyek ‘6 Negara, 1 Tujuan’

Perdana Menteri Thailand, Paetongtarn Shinawatra, mengajukan inisiatif “Enam Negara, Satu Tujuan” yang bertujuan memperkuat posisi ASEAN sebagai pusat wisata global. Program ini bertujuan untuk mempermudah akses bagi wisatawan internasional serta mendorong pertumbuhan sektor pariwisata di enam negara yang tergabung dalam kerja sama tersebut.

Menurut laporan The Star, Minggu (16/2/2025), Paetongtarn menyatakan bahwa inisiatif ini akan difokuskan pada peningkatan konektivitas antarnegara, kemudahan lintas batas, serta kampanye promosi wisata yang lebih terkoordinasi. Enam negara yang terlibat dalam rencana ini adalah Brunei, Kamboja, Laos, Malaysia, Vietnam, dan Thailand. Tak hanya itu, Thailand juga berencana mengundang Singapura untuk bergabung dalam kerja sama ini.

Meningkatkan Daya Tarik Wisata ASEAN

Paetongtarn menegaskan bahwa inisiatif ini memiliki potensi besar dalam menarik lebih banyak wisatawan dari luar kawasan ASEAN. Dengan skema ini, wisatawan akan lebih mudah menjelajahi beberapa negara dalam satu perjalanan, sehingga meningkatkan jumlah kunjungan serta memperpanjang durasi tinggal mereka di kawasan tersebut.

“Saya yakin ada peluang besar untuk memperkuat kerja sama di bidang pariwisata, yang merupakan sektor utama dalam membangun konektivitas ekonomi dan budaya di kawasan kita. Dengan skema ‘Enam Negara, Satu Tujuan’, kita dapat menjadikan ASEAN sebagai destinasi wisata tunggal yang mudah diakses,” ujarnya.

Paetongtarn optimistis program ini akan meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan serta mendorong persinggahan yang lebih lama di enam negara peserta. Dengan begitu, setiap negara dapat menikmati manfaat ekonomi dari sektor pariwisata yang lebih terintegrasi.

Kolaborasi Infrastruktur dan Kebijakan Bebas Visa

Sebagai negara dengan posisi strategis di kawasan, Thailand dan Malaysia diharapkan dapat menjadi pemimpin dalam implementasi inisiatif ini. Paetongtarn menekankan bahwa keberhasilan program ini akan sangat bergantung pada pengembangan infrastruktur lintas batas yang lebih baik, seperti jaringan jalan, kereta api, dan konektivitas udara.

“Kami akan mengembangkan infrastruktur perjalanan lintas batas yang lebih baik, mulai dari perbaikan jalan raya, penghubungan jalur kereta api, hingga kebijakan bebas visa untuk perjalanan multinegara,” jelasnya.

Selain itu, Thailand juga tengah menjalin diskusi dengan negara-negara peserta lainnya, termasuk Malaysia, Kamboja, dan Vietnam, untuk merancang strategi implementasi yang efektif.

“Saat ini, tim perwakilan Thailand sedang berdiskusi dengan mitra kami di Malaysia, Kamboja, dan Vietnam untuk memajukan rencana ini,” tambahnya.

Sebagai putri dari mantan Perdana Menteri Thailand, Thaksin Shinawatra, Paetongtarn ingin memastikan bahwa kebijakan ini dapat segera diwujudkan demi meningkatkan daya saing sektor pariwisata ASEAN di kancah global.

Dengan adanya program “Enam Negara, Satu Tujuan”, ASEAN diharapkan dapat menjadi destinasi yang lebih menarik, mudah diakses, dan menawarkan pengalaman wisata yang lebih menyeluruh bagi wisatawan internasional.