Ekspedisi Samudra Portugis: Bagaimana Mereka Menjelajah Dunia?

Portugis dan Spanyol dikenal sebagai dua bangsa Eropa yang menjadi pelopor dalam penjelajahan samudra. Krisis ekonomi yang melanda akibat jatuhnya Konstantinopel memicu kedua negara tersebut untuk mencari jalur baru menuju sumber komoditas berharga, terutama rempah-rempah yang sangat diminati di Eropa.

Namun, ambisi besar ini membawa Portugis dan Spanyol ke dalam persaingan sengit. Demi menghindari konflik berkepanjangan, keduanya akhirnya menyepakati Perjanjian Tordesillas pada 7 Juni 1494. Melalui perjanjian ini, dunia dibagi menjadi dua wilayah pengaruh dengan garis demarkasi yang membentang dari Kutub Utara ke Kutub Selatan. Wilayah di sebelah barat diberikan kepada Spanyol, sementara wilayah di sebelah timur menjadi milik Portugis.

Sebagai konsekuensi dari pembagian ini, Portugis memilih jalur timur dalam penjelajahannya, melewati pantai barat Afrika menuju Tanjung Harapan, lalu menyusuri pantai timur Afrika hingga akhirnya mencapai India.

Perjalanan Besar Bangsa Portugis dalam Penjelajahan Samudra

Pangeran Henry the Navigator, putra Raja Portugis, menjadi tokoh yang berperan besar dalam kemajuan dunia pelayaran negaranya. Sejumlah pelaut Portugis kemudian mencatatkan namanya dalam sejarah eksplorasi samudra. Berikut beberapa momen penting dalam penjelajahan bangsa Portugis:

  • 1412 – Pangeran Henry memimpin ekspedisi pertama ke Pantai Afrika dan Kepulauan Canary.
  • 1455 – Paus melalui Romanus Pontifex memberikan wewenang kepada Portugis untuk mengklaim wilayah di selatan Bojador dan Cape Chaunar.
  • 1488 – Bartolomeu Dias sukses mencapai Tanjung Harapan dan memasuki perairan Samudra Hindia.
  • 1498 – Vasco da Gama menempuh jalur yang dirintis Bartolomeu Dias hingga mencapai Calicut, India.
  • 1500 – Pedro Álvares Cabral menemukan Brasil dalam ekspedisinya menuju India.
  • 1511 – Afonso de Albuquerque menaklukkan Malaka, membuka jalur perdagangan rempah-rempah bagi Portugis di Asia Tenggara.
  • 1512 – António de Abreu tiba di Maluku, disusul oleh Portugis yang mendirikan pos perdagangan di wilayah tersebut.
  • 1519-1521 – Ferdinand Magellan memimpin ekspedisi pertama yang berhasil menyeberangi Samudra Atlantik ke Samudra Pasifik.
  • 1542 – Portugis, dipimpin Fernão Mendes Pinto, mencapai Jepang, menjalin hubungan perdagangan dengan negeri tersebut.
  • 1606 – Pedro Fernandes de Queirós menemukan Vanuatu dan mencapai Australia.

Portugis di Indonesia: Perebutan Maluku dan Perjanjian Saragosa

Penjelajahan samudra membawa Portugis ke Nusantara, tepatnya ke Malaka pada 1511, di bawah kepemimpinan Afonso de Albuquerque. Setelah berhasil merebut Malaka, mereka melanjutkan ekspedisi ke Maluku pada 1512, pusat perdagangan rempah-rempah dunia saat itu.

Namun, kehadiran Portugis di Maluku tidak berjalan mulus. Pada 1521, Spanyol muncul dari Filipina, dipimpin oleh Kapten Sebastian del Cano, dan memulai persaingan dengan Portugis di kawasan tersebut.

Ketegangan antara kedua bangsa ini akhirnya diselesaikan dengan Perjanjian Saragosa pada 1529. Dalam perjanjian tersebut, Spanyol sepakat untuk kembali ke Filipina, sementara Portugis tetap menguasai Maluku.

Namun, kehadiran Portugis di Maluku memicu konflik baru dengan kerajaan setempat. Ternate dan Tidore yang bersaing dalam dominasi perdagangan rempah-rempah juga terlibat dalam perseteruan ini. Ternate meminta bantuan Portugis untuk menghadapi Tidore, dengan imbalan hak monopoli perdagangan rempah-rempah.

Monopoli yang dilakukan Portugis justru menyebabkan ketidakpuasan rakyat Ternate. Pada akhirnya, kekuasaan Portugis di Maluku berlangsung hingga 1641, sebelum mereka diusir oleh Belanda yang mulai mengambil alih perdagangan rempah-rempah di wilayah tersebut.

Kesimpulan

Penjelajahan samudra yang dilakukan Portugis dan Spanyol tidak hanya membuka jalur perdagangan global, tetapi juga membawa dampak besar bagi wilayah yang mereka jajaki. Perjanjian Tordesillas dan Saragosa menjadi bukti bahwa persaingan dagang antarbangsa dapat memicu ketegangan yang berujung pada perjanjian politik.

Di Indonesia, kedatangan Portugis menjadi awal dari kolonialisme Eropa di Nusantara. Meski sempat menguasai Maluku, monopoli perdagangan yang mereka lakukan menimbulkan perlawanan dari masyarakat setempat. Hal ini menunjukkan bahwa di balik kejayaan eksplorasi, terdapat dampak sosial dan politik yang turut membentuk sejarah bangsa-bangsa di dunia.

Eskalasi Konflik di Suriah: 237 Orang Tewas dalam Bentrokan Sengit

Sejak meningkatnya ketegangan militer di wilayah pesisir Suriah pada Kamis (6/3), sedikitnya 237 orang dilaporkan tewas dalam bentrokan yang terus meluas. Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia menyebutkan bahwa korban terdiri dari personel militer, pejuang oposisi, dan warga sipil. Pasukan pemerintah melancarkan operasi besar-besaran untuk menumpas sisa-sisa faksi militer dari rezim sebelumnya di provinsi Latakia, Tartous, dan Hama. Situasi ini bermula dari serangan mendadak kelompok bersenjata terhadap pasukan pemerintah, termasuk pos pemeriksaan dan markas utama yang berada di sepanjang garis pantai.

Seiring berjalannya waktu, intensitas pertempuran semakin meningkat, dan jumlah korban terus bertambah. Hingga Jumat (7/3), total korban tewas mencapai 237 orang, dengan 142 di antaranya merupakan warga sipil yang tidak terlibat dalam pertempuran. Selain itu, korban juga mencakup 50 tentara serta perwira dari Kementerian Pertahanan dan Kementerian Dalam Negeri Suriah, serta 45 pejuang oposisi yang turut terlibat dalam bentrokan. Situasi di medan perang semakin tidak terkendali, memaksa pemerintah untuk mengerahkan bala bantuan tambahan, termasuk persenjataan berat guna menghadapi kelompok oposisi yang masih bertahan.

Bentrokan sengit masih terus berlanjut di berbagai wilayah, terutama di pedesaan Latakia dan Tartous. Meskipun pasukan pemerintah terus menggempur kelompok oposisi dengan serangan darat dan udara, perlawanan yang diberikan cukup kuat. Kelompok bersenjata masih melakukan penyergapan terhadap pasukan pemerintah dan menyerang infrastruktur militer strategis. Eskalasi ini menjadi yang paling mematikan sejak kejatuhan pemerintahan sebelumnya pada Desember lalu, menunjukkan bahwa konflik di Suriah masih jauh dari kata usai.

Sumber-sumber lokal melaporkan bahwa selain korban jiwa, banyak warga sipil yang terpaksa mengungsi demi menghindari dampak pertempuran. Rumah-rumah dan fasilitas umum seperti sekolah serta rumah sakit mengalami kerusakan akibat baku tembak dan serangan udara. Bantuan kemanusiaan juga sulit masuk ke wilayah terdampak, memperburuk kondisi masyarakat yang terjebak di tengah konflik.

Situasi yang terus memburuk ini menimbulkan kekhawatiran di tingkat internasional. Sejumlah negara dan organisasi hak asasi manusia mendesak adanya upaya diplomasi untuk mengakhiri kekerasan, namun hingga kini belum ada tanda-tanda meredanya konflik. Ketidakstabilan politik dan keamanan di Suriah terus berlanjut, berpotensi menyebabkan jumlah korban semakin bertambah dan dampak konflik semakin meluas.

Mengintip 7 Tren Teknologi 2025: AI, 6G, dan Masa Depan Digital

Kemajuan teknologi terus berkembang pesat, membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan. Jika dibandingkan dengan beberapa dekade lalu, perkembangan ini terasa revolusioner. Pada tahun 1980-an, menjalankan program komputer membutuhkan waktu berhari-hari dengan sistem kartu berlubang. Kini, ponsel pintar telah memiliki kemampuan pemrosesan yang jauh melampaui komputer besar di masa lalu.

Lalu, bagaimana teknologi akan berkembang pada tahun 2025? Berikut adalah tujuh tren utama yang diprediksi akan mendominasi dunia teknologi.

1. Agen AI: Revolusi dalam Industri dan Kehidupan Sehari-hari

Kecerdasan buatan (AI) terus berkembang pesat, dan pada 2025, agen AI diperkirakan akan semakin terintegrasi dalam kehidupan manusia. Agen AI merupakan sistem cerdas yang dapat menjalankan tugas secara mandiri, mulai dari mengelola jadwal harian hingga membantu dalam pengajuan pinjaman rumah.

Di sektor industri, pabrik otomatis tanpa pekerja manusia bukan lagi sekadar konsep. Robot berbasis AI akan menangani perakitan kendaraan, pengelolaan inventaris, hingga pemantauan produksi. Tesla, misalnya, sedang mengembangkan robot humanoid Optimus, yang rencananya akan digunakan secara internal pada 2025 sebelum dipasarkan secara luas pada 2026.

AI juga diperkirakan akan mengambil alih banyak tugas dalam manajemen proyek. Menurut Gartner, pada 2030, sekitar 80% tugas manajemen proyek akan dikelola oleh AI, memungkinkan manusia lebih fokus pada strategi dan pengambilan keputusan.

2. Personalisasi AI: Pendidikan dan Bisnis yang Lebih Efektif

Teknologi AI akan memungkinkan personalisasi yang lebih mendalam, terutama dalam sektor pendidikan. Model pembelajaran akan disesuaikan dengan kebutuhan siswa berdasarkan minat, kemampuan, serta kondisi emosional mereka.

Misalnya, AI dapat menyesuaikan materi pembelajaran jika mendeteksi bahwa siswa mengalami kelelahan melalui data dari jam tangan pintar. Ini menciptakan sistem pendidikan yang lebih fleksibel dan efektif.

Dalam dunia bisnis, perusahaan mulai mengembangkan Small Language Models (SLM) yang dapat bekerja dengan lebih efisien dibandingkan model AI besar. Teknologi ini memungkinkan AI berjalan langsung di perangkat seperti ponsel atau laptop, tanpa memerlukan koneksi ke pusat data besar.

3. Komputasi Kuantum: Revolusi Pemrosesan Data

Komputasi kuantum membawa terobosan besar dalam pemrosesan data. Berbeda dengan komputer konvensional yang menggunakan bit (0 dan 1), komputer kuantum bekerja dengan qubit yang dapat berada dalam dua keadaan secara bersamaan.

Pada 2025, teknologi ini diperkirakan akan mulai diterapkan di berbagai industri, seperti:

  • Farmasi: Mempercepat penemuan obat dengan simulasi molekuler yang lebih akurat.
  • Keuangan: Meningkatkan kemampuan analisis risiko dan pengelolaan investasi.
  • Logistik: Mengoptimalkan rute pengiriman barang untuk efisiensi lebih tinggi.

Meskipun masih menghadapi tantangan seperti koreksi kesalahan dalam sistem qubit, perkembangan ini berpotensi mengubah cara dunia memproses informasi.

4. Dunia Virtual dan Fisik yang Makin Terhubung

Teknologi seperti Virtual Reality (VR), Augmented Reality (AR), dan Mixed Reality (MR) semakin canggih. Perusahaan besar seperti Apple dengan Vision Pro dan Meta dengan Meta Quest terus berinovasi dalam menciptakan pengalaman digital yang lebih imersif.

Pada 2025, teknologi ini diprediksi akan semakin diterapkan dalam berbagai bidang, seperti:

  • Pekerjaan: Rapat virtual yang terasa seperti pertemuan langsung.
  • Pendidikan: Pembelajaran interaktif dengan simulasi 3D.
  • Hiburan: Pengalaman bermain game dan menonton film yang lebih realistis.

Teknologi ini memungkinkan integrasi dunia nyata dan digital yang semakin erat, mengubah cara manusia bekerja, belajar, dan bersosialisasi.

5. Blockchain: Transparansi dan Efisiensi Global

Blockchain semakin membuktikan dirinya sebagai solusi untuk meningkatkan transparansi dan keamanan data. Di sektor rantai pasokan, blockchain dapat melacak produk dari sumber hingga konsumen akhir, memastikan keaslian dan kualitasnya.

Di bidang kesehatan, teknologi ini digunakan untuk menyimpan data pasien dengan aman, mengurangi risiko kebocoran informasi sensitif. Sementara itu, di sektor keuangan, blockchain memungkinkan transaksi lebih cepat dan murah tanpa perantara, serta membuka akses ke layanan keuangan bagi mereka yang tidak memiliki rekening bank.

6. Komunikasi 6G: Kecepatan Super dan Konektivitas Masa Depan

Jaringan 6G diperkirakan akan mulai distandardisasi pada 2025, membawa konektivitas hingga 100 kali lebih cepat dibandingkan 5G dengan latensi mendekati nol.

Teknologi ini akan mendukung berbagai inovasi, seperti:

  • Kota pintar: Pengelolaan transportasi dan energi secara real-time.
  • Kendaraan otonom: Komunikasi instan antar kendaraan untuk meningkatkan keselamatan.
  • Layanan AI real-time: Interaksi manusia-mesin yang lebih mulus dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, tantangan utama dalam implementasi 6G adalah penyelarasan standar global agar teknologi ini dapat diterapkan secara luas dan efektif.

7. Kendaraan Otonom: Masa Depan Transportasi

Teknologi kendaraan tanpa pengemudi terus berkembang, dan pada 2025, kendaraan dengan tingkat otomatisasi tinggi diprediksi akan mulai digunakan secara lebih luas.

Mercedes-Benz dan Tesla termasuk pionir dalam inovasi ini:

  • Mercedes-Benz: Mengembangkan sistem Drive Pilot yang memungkinkan kendaraan beroperasi mandiri dalam kondisi tertentu.
  • Tesla: Merancang Robotaxi, layanan transportasi tanpa pengemudi yang ditargetkan meluncur sebelum 2027.

Dengan dukungan teknologi 6G, kendaraan ini dapat terhubung dengan sistem kota pintar, menciptakan transportasi yang lebih efisien dan aman.

Kesimpulan

Tahun 2025 akan menjadi era di mana teknologi semakin mendekatkan dunia fisik dan digital. Dari agen AI yang menggantikan aplikasi ponsel hingga kendaraan tanpa pengemudi yang semakin canggih, inovasi teknologi akan terus membentuk cara kita hidup dan bekerja.

Dengan semua perkembangan ini, kita tidak hanya menyaksikan kemajuan teknologi, tetapi juga transformasi besar dalam kehidupan manusia menuju masa depan yang lebih efisien, cerdas, dan terhubung.

Tegas dan Kontroversial: Trump Ancam Hamas dengan Peringatan Keras

Kantor Informasi Pemerintah di Gaza merespons pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengancam Hamas, dengan menegaskan bahwa akar permasalahan sebenarnya adalah pendudukan Israel atas Palestina, bukan kelompok perlawanan di Gaza. Selame Maruf, dalam pernyataannya di platform X, menyatakan bahwa rakyat Palestina dan kelompok perlawanan tidak pernah menjadi masalah utama, melainkan pendudukan Israel yang terus berlangsung.

Maruf juga mengecam pernyataan Trump yang dianggapnya memberikan dukungan mutlak kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Ia menuduh Trump memberi wewenang kepada Netanyahu untuk terus melakukan kekerasan terhadap 2,4 juta warga Palestina. Menurutnya, situasi yang terjadi di Tepi Barat dan Yerusalem merupakan bukti nyata dari kebijakan yang didukung oleh mantan presiden AS tersebut.

Sebelumnya, Trump mengeluarkan ultimatum keras kepada Hamas, menuntut pembebasan semua sandera yang ditahan di Gaza. Melalui unggahan di Truth Social, ia memperingatkan bahwa Hamas akan menghadapi konsekuensi besar jika tidak segera memenuhi tuntutannya. Ia juga berjanji akan memberikan dukungan penuh kepada Israel, memastikan bahwa negara tersebut memiliki segala yang dibutuhkan untuk menyelesaikan misinya.

Trump bahkan mengancam para pemimpin Hamas agar segera meninggalkan Gaza sebelum terlambat, menyebut peringatannya sebagai kesempatan terakhir bagi mereka. Ia juga mengaitkan masa depan rakyat Gaza dengan nasib para sandera, memperingatkan bahwa tidak akan ada masa depan cerah bagi mereka jika sandera tetap ditahan. Trump menutup pernyataannya dengan pesan keras, menegaskan bahwa jika tuntutannya tidak dipenuhi, akan ada konsekuensi berat yang menanti Hamas.

Ketegangan Meningkat di Tepi Barat, Komandan Brigade Al-Qassam Gugur di Jenin

Ketegangan di Tepi Barat kembali meningkat setelah kelompok perjuangan Palestina, Hamas, mengumumkan gugurnya salah satu komandan Brigade Al-Qassam di Kota Jenin. Komandan tersebut, Esir al-Saadi, tewas dalam bentrokan dengan pasukan Israel di wilayah tersebut. Kabar ini disampaikan oleh kantor berita Palestina, Sama, yang melaporkan bahwa Hamas menegaskan perlawanan terhadap agresi Israel di Jenin akan terus berlanjut. Situasi di wilayah ini semakin memburuk seiring dengan meningkatnya operasi militer Israel yang menargetkan sejumlah kota dan kamp pengungsi Palestina.

Pada Selasa (4/3), Bulan Sabit Merah Palestina juga melaporkan bahwa seorang pemuda Palestina kehilangan nyawa akibat serangan tentara Israel di timur Jenin. Sejak 21 Januari lalu, militer Israel memperluas operasi yang mereka sebut sebagai “Tembok Besi” di beberapa wilayah, termasuk Jenin, Tulkarem, dan Tubas. Operasi ini semakin menambah ketegangan antara kedua pihak, dengan warga Palestina menghadapi situasi yang semakin sulit akibat peningkatan serangan dan penggerebekan di berbagai lokasi.

Pejabat Palestina memperingatkan bahwa langkah ini merupakan bagian dari rencana Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, untuk mencaplok wilayah Tepi Barat dan mendeklarasikan kedaulatan penuh atasnya. Jika rencana ini terus berlanjut, solusi dua negara yang selama ini diperjuangkan dalam diplomasi internasional bisa terancam berakhir. Dengan eskalasi konflik yang terus terjadi, situasi di Tepi Barat semakin tidak menentu, meningkatkan kekhawatiran akan kemungkinan pertempuran yang lebih luas di wilayah tersebut.

MultiVerse Conference 2025: Momen Krusial Inovasi Teknologi Global

Medusa Technology bersama Universitas Pradita baru saja menyelenggarakan acara “MultiVerse Conference 2025”, sebuah konferensi yang menggabungkan dunia industri dan akademisi untuk mengoptimalkan pemanfaatan teknologi digital seperti virtual, kecerdasan buatan (AI), dan Internet of Things (IoT). Konferensi ini berlangsung secara hibrid selama lima hari dengan menghadirkan berbagai topik menarik yang relevan dengan perkembangan teknologi digital saat ini.

Dengan format acara yang fleksibel, peserta dapat mengikuti konferensi baik secara langsung (luring) maupun secara virtual melalui platform Zoom dan YouTube. Tak hanya itu, konferensi ini juga memanfaatkan ruang virtual di Metaverse, menambah dimensi baru dalam pengalaman acara. Dimulai pada 15-16 Februari 2025, rangkaian konferensi ini dilanjutkan pada 21-23 Februari dengan berbagai diskusi mendalam, termasuk pembahasan tentang penerapan teknologi digital di sektor pertanian dan pendidikan.

Sekitar 10 pembicara ahli turut hadir memberikan wawasan mereka, dan setiap harinya konferensi ini dihadiri oleh lebih dari 100 peserta. Dekan Universitas Pradita, Handri Santoso, mengungkapkan bahwa konferensi ini merupakan kesempatan besar untuk mendorong inovasi dan memperkuat kolaborasi antara berbagai pemangku kepentingan, terutama dalam dunia pendidikan dan industri teknologi digital. “Kami sangat senang bisa menjadi tuan rumah acara besar ini. MultiVerse Con 2025 adalah wadah untuk memajukan kolaborasi dan inovasi, serta mendukung perkembangan teknologi metaverse,” ujarnya.

Maria Magdalena dari Medusa Technology juga menegaskan bahwa konferensi ini adalah contoh konkret dari kemitraan yang saling menguntungkan antara industri dan dunia akademis. “Acara ini bertujuan untuk memperbaharui pengetahuan tentang dunia virtual, AI, dan IoT, sekaligus memberikan akses terbuka bagi masyarakat luas tanpa terhalang oleh batasan lokasi,” jelas Maria.

Salah satu highlight dari konferensi ini adalah kompetisi VIRWICA (Virtual World Innovation & Creativity Award) 2025 yang diadakan pada hari kelima acara. VIRWICA mengajak anak-anak muda dari seluruh Indonesia untuk berkompetisi dalam menciptakan solusi kreatif berbasis teknologi virtual yang dapat membantu mewujudkan tujuan Sustainable Development Goals (SDG). Tahun ini, kompetisi ini diikuti oleh 40 peserta yang terbagi dalam 16 tim, dan pemenangnya memperoleh penghargaan atas inovasi mereka.

Adapun tim pemenang yang berhasil meraih penghargaan adalah:

  • Gold Award: Tim 9 dari Sekolah Aloysius Bandung dengan inovasi “Household Wastewater to Battery”, yang mengubah air limbah rumah tangga menjadi sumber energi listrik.
  • Silver Award: Tim 1 dari Sekolah Suluh Bangsa Mulia dengan inovasi “Podnik”, sebuah solusi untuk masalah pangan di daerah-daerah yang kekurangan pangan.
  • Bronze Award: Tim 3 dari Sekolah Suluh Bangsa Mulia dengan inovasi “Mosqblock Concoction”, sebuah metode pemberantasan jentik-jentik nyamuk yang ramah lingkungan.

Di penghujung acara, Rektor Universitas Pradita, Prof. Richardus Eko Indrajit, menyatakan bahwa “MultiVerse Conference” akan menjadi konferensi tahunan yang semakin inklusif dan berfokus pada dampak positif untuk masa depan. “Kami akan terus mengembangkan acara ini dengan menambahkan sesi diskusi, lokakarya, serta demonstrasi teknologi terkini, agar peserta dapat merasakan langsung potensi dari dunia virtual, AI, dan IoT,” ungkapnya.

Dengan konferensi seperti ini, diharapkan tercipta lebih banyak inovasi yang dapat membawa manfaat langsung bagi masyarakat, serta membuka peluang lebih luas bagi anak muda untuk berkolaborasi dan berkreasi dalam dunia digital yang terus berkembang.

Menuju Coast Guard Sejati, Bakamla Dinilai Perlu Kewenangan Lebih

Badan Keamanan Laut (Bakamla) kembali menyoroti perlunya kewenangan dalam melakukan penyidikan guna memperkuat perannya sebagai penjaga pantai (coast guard) nasional. Anggota Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin, menegaskan bahwa Bakamla membutuhkan legitimasi lebih kuat untuk menjalankan fungsinya secara optimal.

“Memang dibutuhkan kewenangan lebih bagi Bakamla agar bisa berfungsi sebagai coast guard sejati,” ujar Hasanuddin saat ditemui di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (4/3/2025). Ia juga menyatakan bahwa Komisi I DPR RI akan membahas hal ini lebih lanjut guna mencari solusi terbaik.

Bakamla Belum Memiliki Wewenang Penuh

Saat ini, Bakamla belum memiliki landasan hukum yang cukup kuat untuk bertindak sebagai penjaga laut secara independen. Menurut Hasanuddin, jika ingin mewujudkan Bakamla sebagai coast guard yang sah, diperlukan undang-undang (UU) khusus, bukan sekadar regulasi dalam bentuk peraturan presiden (perpres).

Hal senada juga diungkapkan oleh Kepala Bakamla RI, Laksamana Madya Irvansyah, yang menyebut bahwa Indonesia hingga kini belum memiliki penjaga laut yang ideal. Meski Bakamla memiliki tugas utama sebagai pengawal perairan nasional, keterbatasan sumber daya dan minimnya kewenangan hukum membuat perannya kurang efektif.

“Saat ini, Bakamla tidak memiliki kewenangan penyidikan. Setiap pelaku tindak kriminal yang kami tangkap di laut harus kami serahkan kepada penyidik dari instansi lain, seperti Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) atau TNI AL,” jelas Irvansyah di Kompleks Parlemen, Senayan, Senin (3/3/2025).

Usulan Pembentukan Undang-Undang Keamanan Laut

Untuk mengatasi permasalahan ini, Bakamla telah mengusulkan pembentukan Undang-Undang (UU) tentang Keamanan Laut. Dengan adanya UU ini, Bakamla diharapkan bisa memiliki kewenangan penyidikan dan penegakan hukum secara langsung, sehingga tidak lagi bergantung pada instansi lain dalam menangani kasus kejahatan di laut.

Menurut Irvansyah, keterbatasan wewenang ini dapat berpotensi mengubah arah proses hukum, karena Bakamla tidak memiliki kendali atas kasus yang sudah mereka serahkan.

“Kami tidak bisa membuat Berita Acara Pemeriksaan (BAP), tidak bisa menentukan sanksi, dan hanya bisa menyerahkan pelaku ke pihak lain. Setelah itu, proses hukumnya sepenuhnya ada di tangan mereka, apakah mau diproses lebih lanjut atau tidak, kami tidak bisa mengintervensi,” ungkapnya.

Selain itu, ia juga menyoroti bahwa aturan hukum terkait tugas Bakamla masih tersebar dalam berbagai regulasi, seperti UU Kelautan dan UU Pelayaran, yang menyebabkan tumpang tindih dengan instansi lain, seperti TNI AL dan Polairud.

“Kami berharap dengan adanya UU Keamanan Laut, tidak ada lagi tumpang tindih kewenangan antar lembaga, tidak ada pemeriksaan berulang, dan yang paling penting, Indonesia bisa memiliki coast guard yang diakui secara nasional maupun internasional,” tegas Irvansyah.

Kesimpulan

Permintaan Bakamla untuk mendapatkan kewenangan penyidikan semakin menguat di tengah kebutuhan akan penegakan hukum laut yang lebih efektif. Dengan adanya UU Keamanan Laut, diharapkan Bakamla bisa menjalankan tugasnya dengan lebih mandiri, tanpa harus bergantung pada instansi lain.

Langkah selanjutnya kini ada di tangan Komisi I DPR RI, yang akan membahas usulan ini lebih lanjut. Jika disetujui, bukan tidak mungkin Indonesia akhirnya memiliki coast guard sejati yang dapat menjaga perairan nasional dengan lebih optimal.

Hamas Tegaskan Tidak Akan Terlibat dalam Administrasi Gaza Pascaperang

Hamas menegaskan bahwa mereka tidak akan ikut serta dalam pengaturan administratif di Jalur Gaza setelah perang, dengan syarat bahwa pengaturan tersebut didasarkan pada kesepakatan nasional. Juru bicara Hamas, Hazem Qassem, menekankan bahwa masa depan Gaza harus ditentukan melalui konsensus internal, bukan campur tangan pihak eksternal. Hamas, katanya, tidak memiliki kepentingan untuk terlibat dalam pemerintahan pascaperang dan akan mendukung setiap kesepakatan yang memungkinkan rekonstruksi Gaza secara serius.

Qassem juga menyoroti pentingnya rekonstruksi guna menyelamatkan rakyat Gaza dari kehancuran akibat perang berkepanjangan dengan Israel. Hamas, menurutnya, tidak akan menjadi hambatan bagi kesepakatan yang dicapai melalui konsensus nasional untuk membangun kembali wilayah tersebut. Sebelumnya, pada Desember, Hamas telah menerima usulan dari Mesir terkait pembentukan komite komunitas yang akan bertugas mengelola Gaza setelah perang berakhir.

Mesir sendiri akan menggelar KTT darurat negara-negara Arab untuk membahas sikap bersama mengenai Palestina serta menyusun respons terhadap rencana Amerika Serikat terkait pemindahan penduduk Gaza. Presiden AS, Donald Trump, sebelumnya telah mengusulkan agar Gaza diambil alih dan dijadikan destinasi wisata, sebuah gagasan yang mendapat kecaman luas dari dunia Arab dan komunitas internasional karena dinilai sebagai upaya pembersihan etnis.

Sejak Oktober 2023, konflik brutal di Gaza telah menewaskan hampir 48.400 warga Palestina, sebagian besar di antaranya adalah perempuan dan anak-anak, sementara lebih dari 111.000 orang mengalami luka-luka. Gempuran Israel sempat terhenti sementara melalui kesepakatan gencatan senjata yang dimulai pada 19 Januari, tetapi kembali berlanjut setelah Tel Aviv menolak negosiasi tahap kedua dengan Hamas. Israel juga menghentikan masuknya bantuan kemanusiaan ke Gaza pada 2 Maret, semakin memperburuk situasi kemanusiaan di wilayah tersebut.

PHR Zona 4 Gunakan Aplikasi G Track untuk Awasi Keamanan Pipa Migas

Prabumulih, Sumatera Selatan – PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4 terus memperkuat langkah pengamanan dan kolaborasi dengan berbagai pihak untuk menjaga kelancaran operasional serta meningkatkan produksi migas nasional. Baru-baru ini, PHR Zona 4 telah menjalin kerjasama erat dengan SKK Migas Sumbagsel, TNI, dan Polri untuk mengamankan objek vital nasional (obvitnas), khususnya di sekitar jalur pipa yang menjadi bagian dari jaringan distribusi migas yang vital.

Secara rutin, tim Keamanan PHR Zona 4 melakukan pengawasan ketat di sepanjang jalur pipa yang membentang di wilayah operasi menggunakan aplikasi canggih G-Track, yang memungkinkan kontrol dan monitoring real-time terhadap potensi gangguan yang dapat mengancam kelancaran operasional. Kerjasama ini diharapkan dapat meminimalisir segala bentuk gangguan, seperti pencurian minyak (illegal tapping), yang menjadi tantangan serius dalam pencapaian target produksi migas nasional.

Pada Selasa, 25 Februari 2025, PHR Zona 4 sukses menggelar diskusi bersama SKK Migas – KKKS (Kontraktor Kontrak Kerja Sama) dengan tema “Pengamanan Obvitnas Guna Peningkatan Produksi Menuju Swasembada Energi”. Diskusi tersebut mengangkat berbagai topik penting terkait dengan pengamanan objek vital migas, dengan fokus utama pada pencurian minyak, yang menjadi salah satu hambatan utama dalam upaya mencapai target produksi nasional.

Safei, Kepala Perwakilan SKK Migas Sumbagsel, dalam acara tersebut mengungkapkan apresiasi terhadap keberhasilan KKKS dan seluruh pihak terkait yang telah berhasil menggagalkan sejumlah upaya pencurian minyak sepanjang tahun 2024. “Sinergi yang terjalin antara SKK Migas, KKKS, dan seluruh pemangku kepentingan sangat krusial dalam menekan angka gangguan keamanan. Ini merupakan upaya bersama untuk mencapai target produksi migas nasional sebesar 1 juta BOPD,” ujar Safei.

Selain masalah pencurian minyak, diskusi juga mencakup aspek hukum terkait tindak pidana migas lainnya, yang menjadi perhatian utama dalam upaya pengamanan obvitnas. Khristiya Lutfiasandhi, Kepala Kejaksaan Negeri Kota Prabumulih, menekankan pentingnya penegakan hukum yang tegas untuk menjaga keberlanjutan sektor migas. “Kejaksaan memiliki peran penting dalam memastikan penegakan hukum melalui prosedur yang sesuai dengan peraturan yang berlaku, guna mengurangi gangguan di sektor migas,” jelasnya.

Keberhasilan dalam mengatasi kasus pencurian minyak juga tercermin dalam penangkapan pelaku pencurian minyak yang terjadi di Adera Field, Kecamatan Abab, Kabupaten Pali. Adam Syukron Nasution, Field Manager Adera, memberikan apresiasi kepada Tim Keamanan PHR Zona 4 bersama TNI dan Polri yang berhasil menangkap pelaku dan menyerahkannya kepada pihak berwajib. “Kerja sama yang baik antara PHR Zona 4, TNI, dan Polri telah berhasil menggagalkan aksi pencurian minyak, yang tidak hanya merugikan produksi migas, tetapi juga berbahaya bagi lingkungan dan melanggar hukum,” ungkapnya.

Pencurian minyak, terutama yang terjadi di jalur pipa, dapat mengakibatkan kerusakan lingkungan dan membahayakan keselamatan masyarakat di sekitarnya. Untuk itu, PHR Zona 4 juga menggelar berbagai sosialisasi kepada masyarakat sekitar mengenai bahaya yang ditimbulkan dari pencurian minyak. PHR mengajak semua pihak, termasuk warga setempat, untuk lebih peduli dan berperan aktif dalam menjaga aset negara yang berharga ini.

Dengan langkah-langkah preventif dan sinergi antara berbagai pihak, diharapkan gangguan-gangguan yang berpotensi menghalangi pencapaian target produksi migas nasional dapat diminimalisir. PHR Zona 4 berkomitmen untuk terus mendukung upaya pemerintah dalam menciptakan swasembada energi dan menjaga keamanan serta kelestarian lingkungan di sekitar wilayah operasionalnya.

FSB Gagalkan Rencana Teror di Moskow, Pelaku Dilumpuhkan

Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB) berhasil menggagalkan rencana serangan teroris yang menargetkan sebuah institusi Yahudi serta stasiun metro di Moskow. Operasi ini dilakukan pada Senin (3/3) dan berakhir dengan dilumpuhkannya seorang pelaku yang diketahui merupakan warga Rusia asal salah satu negara di kawasan Asia Tengah. Menurut laporan FSB, pria tersebut adalah anggota organisasi teroris internasional yang telah dilarang beroperasi di Rusia.

Investigasi mengungkap bahwa pelaku telah melakukan pengintaian secara sistematis dan mengumpulkan berbagai komponen untuk merakit bom. Rencana pengeboman ini menargetkan institusi Yahudi di Wilayah Moskow serta salah satu stasiun metro yang ramai dilalui masyarakat. Jika serangan tersebut berhasil, diperkirakan akan menimbulkan banyak korban jiwa serta kerusakan besar. Selain itu, setelah melancarkan aksinya, pelaku diduga berniat melarikan diri ke Afghanistan untuk bergabung dengan kelompok teroris yang aktif di sana.

Saat aparat keamanan telah hendak menangkapnya, pelaku melakukan perlawanan bersenjata, memaksa pihak FSB untuk bertindak tegas dengan melumpuhkannya. FSB menegaskan bahwa hasil operasi ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan dalam memberantas ancaman terorisme dan memastikan keamanan nasional tetap terjaga. Keberhasilan ini menunjukkan kesiapsiagaan aparat dalam menghadapi potensi ancaman yang dapat mengganggu ketertiban publik. Pemerintah Rusia pun berkomitmen untuk meningkatkan pengawasan serta memperkuat langkah-langkah pencegahan guna mencegah aksi serupa di masa mendatang.